Postingan

Merilis Rasa Melepaskan Lara

Mungkin tahun ini adalah tahun terakhir aku merayakan lara atas patah hati yang hari ini genap sewindu. Mengingatmu adalah luka yang paling kunikmati selama tujuh tahun terakhir. Kau tidak hilang, kau tidak terlupakan—hanya saja hidup akan terus berjalan, dan aku harus melangkah, meski perlahan, untuk melanjutkan hidup yang memang harus dilanjutkan. Bulan depan, tepatnya pada Januari yang tinggal menghitung hari, karya pertamaku dalam bentuk puisi akan dirilis. Jika kau masih ada, mungkin kaulah orang pertama yang mengucapkan selamat atas pencapaianku. Dan faktanya, hampir tujuh puluh persen puisi yang kutulis adalah tentangmu. Keren, bukan? Selama hampir delapan tahun ini, banyak hal membuatku jatuh bangun menjalani hidup. Lebih banyak sedihnya, meski sesekali ada bahagianya. Dari playlist lagu, teman-teman baru, hingga aku yang sempat yakin akan mengakhiri masa lajangku (kupikir begitu), dan masih banyak hal lain yang tak sanggup kuceritakan di tulisan ini. Oh ya, teman-teman kita di...

LPRS 12

     Hujan malam ini membawaku lena pada kisah yang diceritakan Wulan tadi sore. Bukan apa-apa, bagiku meskipun hanya sebuah novel, Abdi Laraku tak mungkin pure hasil imajinasi oleh sang penulisnya, terlebih kisah yang begitu menyentuh padahal, aku belum pernah membacanya tapi seakan kisah itu bisa membuat seolah-olah aku sudah tak asing mendengarkannya. Aku masih penasaran dengan Wira, kalau memang ia benar-benar sosok yang nyata, apakah masih ada orang-orang yang rela mengabdikan rasa hanya pada satu cinta? atau apakah itu yang biasa orang sebut dengan kesejatian cinta? Ah, aku hanya terbawa suasana saja di tambah lagi aroma hujan yang selalu menghadirkan keadaan melankolis.       Akhirnya suara pintu kamarku menyadarkan lamun yang sedari tadi mengajakku berdiskusi. Pekik suara April yang menjengkelkan membuatku beranjak dari tempat tidurku. "Kak, Kak Damaaaar. Ayo makan, hari ini April yang masak buat makan malam".  "Iyo, iyo. Otw. . ." Sahutku...

LPRS 11

AOP Wulan      Rasanya, berat meninggalkan kota kecil dengan segudang cerita di dalamnya. Selain keluarga dan sahabat, kota ini adalah pelengkap masa-masa dimana sejarah kehidupanku di mulai, kisahku takkan pernah lengkap tanpa kota mungil nan menawan ini. Suasana Lubuklinggau pada rembang senja alasan mengapa rinduku selalu membuncah kala mengingat tanah kelahiranku saat berada di kota Bandung tempat aku mengeyam pendidikan, di tambah lagi hiruk-pikuk kota yang bisingnya kendaraan tak terlalu membuat manusia yang mendiaminya bergerutu sebab, jalan protokol tak pernah sekalipun terjadi kemacetan meski ramai lalu-lalang kendaraan. Ah, aku sebentar lagi akan merindukannya. Iya, sebentar lagi. . .      Hari-hari sebelum aku kembali ke Bandung, ku habiskan beberapa bacaan dan kemudian mendiskusikannya bersama Damar sahabat tersayang, meski kadang sifat menjengkelkannya selalu membuatku terkadang risih, tapi ia selalu bisa membuat risihku berubah menjadi basi se...

LPRS 10

     Denting jam berbunyi tujuh kali, aku masih duduk santai di beranda rumah dengan smartphone yang selalu setia menemani setiap aktivitasku, sedang sibuk aku berselancar di dunia maya, April menghampiri lalu mengambil tempat duduk tetap di sebelahku. Aku tahu April pasti sedang butuh sesuatu dariku atau ingin meminta bantuan entah itu apa yang jelas begitulah ia bersikap padaku dengan bujuk rayu yang tentu sudah kuhafal maksudnya.      Dengan suara manja ia memulai. . . "Kak Damar, lagi apo?" lalu duduk dan meneruskan "Dak keluar apo, biasonyo malam minggu nih jalan terus samo Yuk Bella atau Yuk Wulan!"      Dengan nada menuduh kubalas sapanya, "Hm. . . pasti ado sesuatu, apo be nih?" tak ku hiraukan dan masih terpaku pada layar smartphone. "Isttt. . . Kakak nih, selalu be nuduh April cak itu, Su'udzon nian huh. .." Keluhnya dengan wajah lesu "dem ah, padahal tadi April nak nanyo." sambil melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.    ...

LPRS 9

     Rasanya sudah hampir tiga bulanan aku tak lagi menonton televisi, di rumah paling aku hanya melihat dan membaca berita atau informasi terkini hanya via Youtube dan media online saja. Acara yang tersaji di televisi entah mengapa bagiku tak lagi menarik, apalagi di tambah musim politik baru-baru ini semakin membuat minatku menonton televisi semakin berkurang.      Bicara tentang politik, tak lepas dari peran politisi sebagai pemain atau pelaku di dalamnya. Dewasa ini, permasalahan yang di hadapi bangsa dalam hal politik sudah teramat banyak, salah satunya adalah krisis moral politik. Krisis moral politik inilah yang membuat para politisi kita semakin jauh dari simpati publik. Bagi publik, keberadaan politisi tidak lagi membawa arti positif dalam mewujudkan kehidupan bangsa yang makmur dan sejahtera, alih-alih memperbaiki tatanan sosial, Justru Politisi dinilai membuat negara semakin jauh dari cita-cita luhur bangsa.      Perilaku buruk seb...

LPRS 8

AOP Vieri      Minggu ini akan menjadi minggu terakhirku di kota tercinta, Minggu sore aku akan terbang ke Australia demi menyelesaikan thesisku yang bermasalah. Memang sebelum pulang ke tanah air, aku sempat berfikir untuk tidak melanjutkan lagi kuliah dan menetap di kota kelahiran ku. Mamak menjadi penghalang keinginanku, ia menangis saat aku menceritakan untuk berhenti kuliah yang hanya tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan gelar PhD.      Sungguh, betapapun kerasnya hati dan jiwaku yang memiliki filosofi "Aku pemimpin atas diriku sendiri", akhirnya luluh lantak oleh isak tangis seorang Ibu yang telah melahirkan ku ke dunia. Demi bakti dan abdiku pada Mamak, maka aku melanjutkan dan akan berusahan untuk segera menyelesaikan thesis yang ku buat.      Rasanya berat angkat kaki dari tanah kelahiran, tapi tuntutan pendidikan mengharuskan aku pergi meninggalkan kampung halaman. Mamak selalu memberi petuah-petuah indah laksana sajak nam...

LPRS 7

POV_Bella      Watervang, salah satu tempat favoritku dan Damar memburu senja, di sana kami biasanya menikmati sore hari sampai temaram lampu kota menerangi jalanan menyambut hadirnya malam. Diantara deru suara air bendungan Watervang acap kali Damar membacakan ku sebuah novel "Max Havelaar" yang terbit pertama kali pada tahun 1860 karya Multatuli nama samaran atau nama pena si penulis yang hidup pada masa kolonial Belanda. Uniknya, Eduard Douwes Dekker nama aslinya, adalah warga negara Belanda mantan seorang Asisten Residen pemerintahan Hinda Belanda di Jawa, yang dengan berani mengkritik tentang kesewenang-wenangan kolonial Belanda pada Rakyat Indonesia pada masa itu masih bernama Hindia Belanda.       Terbitnya buku ini menimbulkan kegemparan di seantero negri Belanda, yang selanjutnya melahirkan tuntutan-tuntutan dari dalam negri Belanda sendiri, agar pemerintah Belanda memberlakukan Politik Etis bagi rakyat negri seberang (dalam hal ini indonesia)...