Merilis Rasa Melepaskan Lara
Mungkin tahun ini adalah tahun terakhir aku merayakan lara atas patah hati yang hari ini genap sewindu. Mengingatmu adalah luka yang paling kunikmati selama tujuh tahun terakhir. Kau tidak hilang, kau tidak terlupakan—hanya saja hidup akan terus berjalan, dan aku harus melangkah, meski perlahan, untuk melanjutkan hidup yang memang harus dilanjutkan. Bulan depan, tepatnya pada Januari yang tinggal menghitung hari, karya pertamaku dalam bentuk puisi akan dirilis. Jika kau masih ada, mungkin kaulah orang pertama yang mengucapkan selamat atas pencapaianku. Dan faktanya, hampir tujuh puluh persen puisi yang kutulis adalah tentangmu. Keren, bukan? Selama hampir delapan tahun ini, banyak hal membuatku jatuh bangun menjalani hidup. Lebih banyak sedihnya, meski sesekali ada bahagianya. Dari playlist lagu, teman-teman baru, hingga aku yang sempat yakin akan mengakhiri masa lajangku (kupikir begitu), dan masih banyak hal lain yang tak sanggup kuceritakan di tulisan ini. Oh ya, teman-teman kita di...