Merilis Rasa Melepaskan Lara
Mungkin tahun ini adalah tahun terakhir aku merayakan lara atas patah hati yang hari ini genap sewindu. Mengingatmu adalah luka yang paling kunikmati selama tujuh tahun terakhir. Kau tidak hilang, kau tidak terlupakan—hanya saja hidup akan terus berjalan, dan aku harus melangkah, meski perlahan, untuk melanjutkan hidup yang memang harus dilanjutkan.
Bulan depan, tepatnya pada Januari yang tinggal menghitung hari, karya pertamaku dalam bentuk puisi akan dirilis. Jika kau masih ada, mungkin kaulah orang pertama yang mengucapkan selamat atas pencapaianku. Dan faktanya, hampir tujuh puluh persen puisi yang kutulis adalah tentangmu. Keren, bukan?
Selama hampir delapan tahun ini, banyak hal membuatku jatuh bangun menjalani hidup. Lebih banyak sedihnya, meski sesekali ada bahagianya. Dari playlist lagu, teman-teman baru, hingga aku yang sempat yakin akan mengakhiri masa lajangku (kupikir begitu), dan masih banyak hal lain yang tak sanggup kuceritakan di tulisan ini. Oh ya, teman-teman kita di tahun 2018 sudah pada menikah semua—wkwkwk. Sekarang yang tersisa hanyalah aku, yang masih sibuk menertawakan dan berdamai dengan diri sendiri.
Bunga Matahari, setelah bertahun-tahun akhirnya aku mengerti mengapa kau begitu menyukainya. Bunga matahari melambangkan semangat hidup, optimisme, harapan untuk tetap bertahan, serta kebahagiaan. Suatu hari nanti, aku akan mengunjungi taman bunga matahari yang paling ingin kau datangi di Ishii Farm—tapi nanti, setelah aku menyelesaikan semuanya.
Hey, aku baru ingat. Ada lagu tentang bunga matahari yang dinyanyikan oleh Sal Priadi, dan lagu itu selalu mengingatkanku pada ceritamu tentang betapa inginnya kau pergi ke taman bunga matahari. “Tapi jangan dipetik ya,” katamu dulu.
Ternyata benar kata orang-orang: yang paling sulit adalah merelakan seseorang yang tak lagi berada di tempat yang sama. Begitulah cara hidup bekerja—jika tidak meninggalkan, maka kita akan ditinggalkan. Harusnya aku sudah siap sejak dulu.
Setelah tak lagi denganmu, kepulanganku bukan lagi soal rumah, melainkan tempat-tempat yang paling menenangkan. Begitulah caraku mengisi kekosongan hati setelah kepergianmu. Ada beberapa orang yang datang dan membuatku nyaman, tetapi mereka tak pernah sungguh menerima—atau mungkin aku yang belum bisa berdamai dengan masa lalu.
Aku ingin sekali memperkenalkan mereka padamu. Mereka yang sempat mengisi hari-hariku yang kosong itu, meski pada akhirnya tak satu pun bertahan setelah kuceritakan bagaimana aku melewati fase paling menyedihkan dalam hidupku. Tapi tanpa mereka, mungkin aku tidak akan tumbuh dan belum menjadi dewasa seperti sekarang.
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi sayang, untuk sekadar bercerita lewat tulisan saja, rasanya energiku sudah tak ada.
Ini adalah tulisan perayaan terakhir sebelum aku benar-benar merelakan seluruh lara—yang di dalamnya banyak kenangan dan kesedihan. Satu hal: lara, kau abadi, tapi tak lagi abadi di dalam hati. Ku abadikan kau dalam tulisan.
Buku pertamaku kupersembahkan untuk mengenang sekaligus melupakanmu.
Terima kasih, dan selamat tinggal.
Komentar
Posting Komentar